Notice: Undefined variable: auth_id in /var/www/wordpress_analis/wp-content/plugins/current-post/includes/current-post-functions.php on line 598

Oleh: Titin Aryani, S.Si., M.Sc.

– Pemenang hibah internal dan eksternal peneitian dosen
– Pemenang hibah internal dan eksternal pengabdian kepada masyarakat
– Editor an reviewer jurnal terakreditasi nasional

 

Oximeter saat ini merupakan alat yang disarankan dimiliki oleh pasien COVID-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman). Oximeter digunakan untuk mengukur saturasi oksigen atau tingkat/kadar penjenuhan oksigen dalam darah. Pengecekan saturasi oksigen secara periodik sangat diperlukan untuk memantau kadar saturasi oksigen di paru dan denyut  jantung sehingga resiko fatal akibat rendahnya saturasi oksigen dapat diminimalisir.

Pemahaman mengenai saturasi oksigen erat kaitannya dengan istilah hemoglobin dalam darah. Darah mengandung sel darah merah yang di dalamnya terdapat hemoglobin. Hemoglobin tersebut bertugas mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan yang membutuhkan. Ketika hemoglobin mengangkut oksigen, maka hemoglobin disebut  mengandung saturasi oksigen atau penjenuhan oksigen. Secara fisiologis, saturasi oksigen normal berada pada kisaran angka 95-100%.

Saat ini banyak  beredar informasi mengenai beberapa oximeter yang diduga palsu lengkap dengan informasi cara membedakan oximeter asli dan palsu. Menurut sebuah berita di harian merdeka, Video mengenai informasi cara membedakan Oximeter asli dan palsu adalah sebuah disinformasi. Sehingga dapat dimaknai bahwa tidak ada oximeter yang palsu, yang adaadalah oximeter tersebut tidak berfungsi dengan baik. Bersumber dari harian tersebut, Dokter Spesialis Paru Konsultan Onkologi di RSUD dr. Pirngadi Medan Dr. Moh Ramadhani Soeroso, M.Ked (Paru),Sp.P-K.Onk, menekankan bahwa kinerja sebuah oksimeter bergantung dari akurasinya, danbukanpalsu atau tidaknya.(https://www.merdeka.com/cek-fakta/cek-fakta-disinformasi-cara-membedakan-oximeter-asli-dan-palsu.html).

Adapun mengenai prinsip kerjanya, oksimeter bekerja berdasarkan kemampuan membedakan absorbansi cahaya inframerah oleh oksihemoglobin (O2Hb) dengan cahaya merah oleh deoksihemoglobin (HHb) menggunakan detector penangkap cahaya. Oksihemoglobin merupakan hemoglobin yang mengikat oksigen sedangkan deoksihemoglobin merupakan hemoglobin yang tidak mengikat oksigen. Keterbatasan penggunaan alat ini adalah tidak direkomendasikan untuk mengukur saturasi oksigen pada pasien dengan saturasi di bawah 70%. Hal ini karena penentuan saturasi oksigen menggunakan oksimeter berdasarkan kurva kalibrasi untuk memperoleh R-Value pada sukarelawan dengan rentang saturasi 100% hingga sekitar 70%.

Demikian, Semoga bermanfaat..!!